Selasa, 13 November 2012

ILY... (SS)



oleh Zet Meirain T pada 23 September 2012 pukul 20:45 ·
cerita absurt bin gajeee -____-"" cekidot *plak*



----


Agni menggerakkan kakinya selincah mungkin dan mendorong papan skeatboardnya dengan gesit. Sesekali gadis berwajah boneka itu melirik arlogi yang melingkar sempurna di pergelangan kirinya yang begitu mungil.

            Gerbang Triguna School mulai tampak dari kejauhan. Senyum cerah itu mengembang di wajah manis Agni dan kakinya bergerak semakin gesit mendorong papan skeatnya. Sepersekian detik pintu gerbang di hadapannya mulai tertutup, dengan kekuatan penuh si gadis berwajah boneka itu menggerakkan kakinya dan memegang tas ransel yang menggantung di pundaknya sekuat mungkin.

            5…. 4…. 3…. 2…. Shuuu.

            Tap. Agni tersenyum merekah, sambil memeluk skeatboardnya dan menoleh ke arah satpam yang berdiri di ambang pintu gerbang tengah menatapnya dengan tampang cengo sambil menggelengkan kepala kecil. Heran juga lihat cewek satu ini, tubuh kecil, namun pergerakkannya begitu tangkas.

            Agni nyengir. “Makasih Pak Sapta. Bapak baiiiiik banget deh,” seru Agni dari tempatnya berdiri. Pak Sapta, satpam SMA Triguna School hanya tersenyum kecil dan berucap seadanya.

            “Si eneng mah selalu bikin bapak sport jantung,” ucap Pak Sapta. Agni hanya terkikik kecil, kembali ia letakkan papan skeatnya di atas lantai dan kembali melaju menelusuri koridor yang mulai terlihat sepi.

            Pelan-pelan Agni menggerakkan papan skeatnya dan pandangannya terus menelusuri sekelilingnya, takut kalau tiba-tiba guru dari bagian kedisiplinan nongol di hadapannya kan bisa berabe.

            Bruuuk.

            “Wadooooh!” Agni memekik pelan, saat di ujung koridor tanpa sengaja tubuh mungilnya menabrak sesuatu. Agni menengadah, sambil menepis rok abu-abu motif kotak-kotaknya pelan. Seketika mata boneka Agni melotot lebar dan dengan sigap ia pun berdiri tegak.

            “Ba –pak!” Agni meringis, sambil menunduk dalam dan menggigit bibir bawahnya. Alamat dia bakal kena sial deh sepanjang hari ini.

            “Ini sudah kesekian kalinya kamu melanggar peraturan sekolah Agania Rafelian. Dan kamu harus saya hukum,” ucap sang guru tersebut dengan gaya khasnya yang berwibawa. Perlahan Agni mengangkat wajahnya dan memberanikan diri menatap wajah tampan sang guru idola semua siswa itu lekat-lekat.

            “Perasaan gak cakep-cakep banget deh,” gumam Agni tanpa sadar sambil memeluk erat skeatboard ungunya.

            “Kamu bilang apa?” tanya sang guru setelah ia selesai menuliskan sesuatu di buku catatan kedisiplinan dan menatap Agni tepat di manik mata.

            Agni gelagapan. Ia baru sadar, kalau ternyata si guru yang terkenal tegas, super disiplin dan berwibawa ini memiliki bola mata berwarna coklat dengan lingkar hijau mengelilingi bola matanya. Tipe mata yang sangat Agni suka.

            ‘Aduuuh, mikir apa sih gue?’

            “Ammm, gak apa-apa kok, Pak,” bantah Agni mulai salah tingkah sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.

            “Oke. Ini hukuman kamu. kamu gak boleh pulang sebelum kelar,” ucap sang guru tegas, dan tanpa menunggu protes dari Agni pemuda yang masih berusia 21 tahun itu pun melenggang gagah meninggalkan Agni yang masih terpaku menatap kertas hukuman yang berada di genggamannya saat ini.
            “Eh buseeet :O ! gile bener dah nih hukuman,” pekik Agni tertahan.

            ---

“Lo sengaja telat lagi kan, supaya lo bisa di hukum sama Pak Cakka,”

            Agni nyaris saja tersedak minumannya dan menatap Ify dengan mata menyipit. Gile bener dah nih si Ify, perasaan baru sekali ini deh Agni telatnya ketemu sama Pak Cakka. Biasanya juga sama Bu Zeze atau gak Pak Dayat.

            “Apaan dah lu. Ihhhh, lo kata gue murid apaan kecentilan begitu sama guru,” ucap Agni sambil bergidik dan dengan kasar kembali meneguk minumannya. Nova dan Ify tampak saling berpandangan dan kedua gadis itu pun tertawa pelan bersamaan.

            “Hati-hati lo, Ag. Awas, ntar ikutan naksir baru tau rasa,” ucap Nova sambil terkikik geli. Mata Agni kontan membulat dan melempar sebutir kacang tepat mengenai wajah Nova.

            “Cowok idaman gue itu kayak Rio. Cool. Pinter. Keren. Dan yang pasti siswa SMA,” terang Agni menatap kedua sahabatnya itu geram.

            “Kalau katanya bonyok gue, lebih baik kalau mau cari pacar…. Apa lagi kalau model lo Ag, yang kebelet pengen kawin, cocoknya tuh cari cowok tipe-tipe Pak Cakka gitu deh,” ucap Ify santai, di susul dengan gelak tawa Nova. Sementara Agni , wajah manisnya tampak shyok mendengar ucapan Nova barusan. Sialan banget. Siapa coba yang kebelet kawin?

            “Kamvret lo!!” seru Agni dan kali ini sebuah kotak tissue melayang ke arah Nova. Nova menghindar. Agni tampak manyun membuat kedua sahabatnya itu mau tak mau tertawa ngakak.

            ----
“Bawel lu…. He’eh, ini gue masih di perpus…. Gilaaaaa, buanyak buanget ciiiiin buku yang berantakkan…. Huhhh, gue rasa, si Cakka Cakka itu sengaja deh ngerjain murid begini….. aaah bodo’, orangnya gak ada juga…. Oke siiip…. Ya udah, nanti gue telpon lo lagi….”

            Klik. Agni memutuskan panggilannya dan memasukkan benda kotak yang beberapa detik lalu menempel di telinganya ke dalam saku rok abu-abunya. Bete. 3 jam sudah Agni berada di dalam perpustakaan lantai 3. Salah satu perpustakaan yang jarang banget di kunjungi murid-murid.

            Agni mendengus sebal. Dengan kaki menghentak ia melangkah ke salah satu rak dengan tumpukan buku yang menjulang di depan wajahnya.

            “Perasaan yang lain kalau ngehukum gak sebegininya banget deh,” dumel Agni dan kini memasukkan buku-buku tersebut kedalam sebuah box besar yang terletak di sudut ruangan. “Waduuuh, pinggang gue,” rengek Agni dan dengan langkah gontai berjalan ke luar dari rak-rak sumpek di bagian paling belakang perpustakaan.

            Sambil menepuk-nepuk punggung belakangnya, Agni menghentikan langkah di depan meja petugas, saat dari kejauhan melihat seluet seseorang tengah tertidur dalam posisi duduk dan sebuah buku menutupi wajahnya. Seingat Agni, waktu dia masuk di dalam sini gak ada siapa-siapa deh.

            Agni melangkah perlahan mendekati sosok tersebut. Dengan hati-hati Agni menurunkan buku bacaan yang menutupi wajah orang itu dan detik berikutnya Agni tersentak kaget dan bergerak mundur dengan langkah hati-hati.

            “Kok Pak Cakka ada di sini?” gumam Agni bingung. Di perhatikannya sosok Cakka yang tengah tertidur pulas lekat-lekat. Dahi Agni mendadak mengerut. Cakka terlalu muda ternyata kalau di pikir-pikir. Wajahnya begitu bersih dan tidak ada kerutan di dahinya sedikit pun seperti guru yang lainnya –efek stres ngadapin murid–. Dan Cakka, juga terlalu terlihat gaya dan begitu fashionebel dalam berpakaian. Dia sangat pandai meng-in-match kan kemeja, dasi, sepatu semi formal dan celana jeansnya sehingga membuatnya nyaris seumuran dengan Agni.

            “Apa saya terlalu tampan, sampai kamu ngeliatinnya seserius itu?”

            Agni tersentak kaget. Dengan sukar ia menelan ludahnya dan mata bonekanya mulai bergerak lincah mencoba mengalihkan perhatian dari wajah yang jujur emang tampan banget di hadapannya itu.

            Cakka menegakkan posisi duduknya dan dengan gerakkan yang sukses membuat Agni menahan deru napasnya membuka kacamata yang sedari tadi membingkai mata coklatnya.

            “Ammm. Saya boleh pulang sekarang kan, Pak?” tanya Agni langsung. Lama-lama berdiri di hadapan Cakka mungkin akan membuat Agni kena serangan jantung dadakan sebentar lagi –sepertinya.

            Cakka tersenyum –sebuah senyuman yang jujur belum pernah terlihat sekali pun di wajahnya yang biasa terlihat dingin itu– dan bangkit berdiri dari duduknya, menatap Agni tepat di manik mata.

            “Sudah selesai semuanya?” tanya Cakka lagi. Agni menganguk, sambil melirik rak di belakangnya.

            “Udah kok Pak. Kalau Bapak gak percaya, silahkan periksa sendiri aja,” ucap Agni. moodnya mendadak jelek. Badannya udah pegel dan sekarang dia udah ngerasa capek banget pengen cepet-cepet tidur.

            Cakka kini terkikik kecil sambil mengacak pelan puncak kepala Agni dan itu –jujur– sukses membuat jantung Agni berdebar tak karuan.

            “Ya sudah. Kalau memang kerjaan kamu udah kelar silahkan pulang,” ucap Cakka kemudian.

            Agni tersenyum antusias. Ia mengangguk semangat dan dengan langkah lebar berjalan keluar dari gedung perpustakaan.

            ---

Tiiin

            Agni berhenti mengoes skeatboardnya dan menoleh kebelakang. Dahi Agni tampak mengerut saat melihat sebuah mobil super mewah berhenti di sampingnya.

            Kaca jendela turun perlahan. Agni pun pelan-pelan menunduk dan detik berikutnya ia terlihat kaget saat mendapati Cakka tengah tersenyum manis dan duduk di balik kemudi.

            “Kamu mau pulang?” tanya Cakka setengah berteriak. Agni yang masih sedikit terkejut pun hanya bengong dan mengangguk kaku. “Dengan skeatboard?” tanya Cakka lagi dan menatap Agni dengan dahi mengerut.

            Agni melirik ke arah skeatboardnya yang masih tergeletak di aspal, kemudian menariknya dengan ujung kaki sampai benda persegi panjang itu kini berada dalam pelukkannya. “Iya,” jawab Agni seadanya.

            “Rumah kamu dimana?” tanya Cakka lagi.

            “Perkomplekan widuri,” jawab Agni.

            “Itukan lumayan jauh. Bareng sama aku aja, ayo!” ucap dan tawar Cakka kontan membuat mata boneka Agni kini kembali melotot.

            ‘Aku? Gak salah pak Cakka bilang ‘Aku’?’

            “Ehhh, gak usah Pak. Saya udah biasa kok. Nanti sampai halte saya juga naik bus,” tolak Agni halus. Cakka tersenyum sembari menggeleng kecil.

            “Gak usah gak enakka gitu, mentang-mentang aku ini guru kamu. ayo masuk, kebetulan kita searah kok,” ucap Cakka lagi dan kini sukses membuat Agni benar-benar cengok.

            Wajah Agni tampak ragu. “Mau masuk sendiri? Atau aku yang paksa kamu masuk nih?” ucap Cakka serius. Agni kembali menelan ludahnya dengan sukar dan dengan sigap akhirnya pun mengalah dan masuk ke dalam mobil sport milik Cakka.

            ---

Nova dan Ify tampak saling berpandangan. Kedua gadis itu menatap lekat wajah sahabat mereka yang sedari tadi senyam-senyum gak jelas dengan dahi mengerut.

            “Kenapa sih tuh anak?” tanya Nova pada Ify. Ify yang sedari tadi asik mengemut lolipopnya tampak menggeleng dan juga terlihat bingung mendapati Agni yang dari pagi tadi udah kayak orang gila bengong sambil senyum-senyum sendiri begitu.

            “Agni!” seru Ify sambil menoyor pelan lengan Agni. Agni berdehem kecil, masih asik tersenyum sendiri gak jelas. “WOYYY AGANI!” teriak Nova dan Ify serempak, kontak membuat Agni terperanjat dan kini mendelik garang menatap kedua sahabatnya itu.

            “Buseeeeet. Apaan dah lu berdua teriak-teriak di kuping gue,” dumel Agni sambil mengelus pelan telinganya yang mendadak perih.

            “Lo sihh, di panggilin bengong mulu. Lo udah kayak kucing nenek gue yang kemarin tewas akibat bengong tau gak,” ucap Nova seenaknya dan kontan membuat Ify tergelak, sementara Agni jadi semakin manyun.
            “Lo kenapa sih?” tanya Ify kemudian. Agni mulai terlihat gelagapan dan menggaruk-garuk belakang telinganya yang tak gatal.

            “Apaan? Gak kenapa-napa kok gue,” ucap Agni nyengir. Nova dan Ify saling berpandangan, keduanya tampak mengerutkan dahi menatap Agni heran.

            ---

“So, lo mau langsung balik, Ag?” tanya Ify setelah bel pulang berbunyi setengah jam yang lalu. Tadinya sih mereka udah janjian buat nongkrong dulu, tapi mendadak Agni gak bisa.

            “Gak. Gue mau ke rumah sepupu gue dulu, mau nganterin pesenan nyokap,” ucap Agni yang masih sibuk membereskan beberapa perlengkapan tulisnya.

            “Tumben. Biasanya juga lo gak pernah mau tuh,” komentar Ify. Agni hanya berdecis sambil menyandangkan tasnya dan tersenyum tipis pada sahabatnya itu.

            “Kalau ada si Acha juga dia yang gue suruh. Tapikan tuh bocah sekarang sekolah di tempat Eyang gue. Kakak gue juga mendadak super sibuk. Jadi berhubung tinggal gue anak nyokap yang ada di rumah, soooo, yah mau gak mau lah gue harus kesana,” terang Agni panjang lebar.

            Nova dan Ify tampak terkikik dan menggeleng kecil menatap wajah Agni lekat.

            “Dasar lo. Gitu gitu kan dia sodara lo, Ag,” ucap Nova.

            Agni bergidik. Di sambarnya skeatboard yang teronggok di pinggir meja dan mulai berjalan keluar kelas di ikuti oleh Ify dan juga Nova.

            “Kalau sepupunya model dia siiiih, yah gue ogah. Lo tau gak, itu anak gak pernah dewasa. Percuma aja mau merried, tapi kelakuan kayak bocah,” Agni berdecak dan lagi-lagi membuat kedua sahabatnya itu tertawa.

            “Ya udah gih, balik sana lo ntar ke sorean,” ucap Ify kemudian.

            “Eh iya. Oke deh, gue duluan yah guyss!” seru Agni. sebelumnya ia memeluk kilat kedua sahabatnya dan melambai kecil kemudian berlalu.

            ---

Agni menghentikan laju skeatboarnya di depan sebuah rumah bergaya minimalis. Sebuah mobil sport yang terpakir di depan rumah tersebut mengalihkan perhatian Agni. gadis manis itu berhenti sejenak sembari menatap lekat mobil berwarna putih susu itu.

            “Kayak pernah lihat deh,” gumam Agni, kemudian ia bergidik tak perduli dan dengan semangat melangkahkan kakinya memasuki perkarangan rumah..

            “Kak Shilla mana, Mbok?” tanya Agni saat di depan pintu ia bertemu dengan seorang wanita paruhbaya yang biasa mengurus rumah minimalis tepat Shilla menetap saat ini.

            “Mbak Shilla ada di halaman belakang Non. Masuk saja, tapi Mbak Shilla lagi ada tamu,” ucap Mbok Nah. Agni pun mengangguk mengerti dan dengan kilat merangkul Mbok Nah kemudian berlari kecil menuju halaman belakang.

            “Kak Shillaaaaa. Ini titipan nyokap gue buat e –lo… oh-my-god,” Agni menutup mulutnya dengan gerakkan cepat. Bungkusan di tangannya terjatuh di lantai bersamaan dengan itu Shilla dengan cepat menjauhkan diri dari pemuda di hadapannya dan menoleh ke arah pintu, menatap Agni gelagapan dengan ekspresi wajah ketakutan.

            “Pak …. Ca –kka ?” seru Agni tertahan. Pemuda itu pun dengan sigap berdiri dan membenarkan letak dasinya yang terlihat berantakkan. Agni menggeleng pelan, dan kini tatapanya mendarat pada Shilla. “Lo gila?” pekik Agni. Shilla mulai gelagapan dan berjalan terburu-buru menghampiri Agni.

            “Ag, gue bisa jelasin. Please lo jangan ngomong apa pun ke nyokap gue, apa lagi sama Riko. Pleaseeee,” Shilla meraih lengan Agni dengan sigap dan menggenggam jemari mungil Agni erat. gak tau kenapa Agni mendadak sesak napas saat melihat ekspresi berbeda dari wajah Cakka sesaat lalu ketika ia masih berhadapan dengan Shilla.

            Agni menggeleng, kali ini lebih kuat dan dengan kasar menepis cengkraman Shilla.

            “Gue gak ngerti. Dan gue gak tau harus gimana. Terserah lo aja deh, Kak. Hidup-hidup lo. Lo yang jalanin, so, gue gak mau ikut campur. Okay!” ucap Agni menatap tegas manik mata Shilla sembari mengangkat kedua tangannya di udara.

            “Ag! Agni!” seru Shilla. Agni tak menghiraukan dan terus saja berlalu.

            ---

“Kamu udah anterin pesanan Mama buat Shilla kan sayang?” seru sang Mama dari ruang tengah saat melihat putri kecilnya itu berlari heboh menuju tangga. Agni tak menghiraukan dan dengan langlah semakin lebar terus saja menelusuri setiap anak tangga sampai menuju kamarnya.

            “Agni?” sang Mama masih berseru dari tempatnya duduk. Wanita anggun itu tampak mengerutkan dahi menatap ke arah tangga dengan dahi mengerut.

            Brakkk. Agni membanting dengan kasar papan skeatboardnya di lantai. mendadak ia merasa kesal. Kesal dengan Shilla, dan kesal dengan Cakka. Gak ngerti kenapa juga dia harus kesal, ini bukan kali pertama Agni memergogi Shilla sama cowok lain, tapi yang tadi itu adegan paling intim yang sepanjang hidup baru pertama kalinya Agni lihat. Terlebih, beberapa bulan lagi Shilla akan menikah dengan salah seorang anak temen Mamanya dan Cakka….

            “Gue kenapa sih? Errrrgh. Kenapa juga gue harus kesel? Seharunya ya gak masalah dong kalau Pak Cakka juga naksir Kak Shilla. Kenapa juga gue harus seweot begini,” oceh Agni sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.

            Sesaat kemudian Agni mendudukkan diri di tepi ranjang. Ia sedikit merasakan sesak napas saat mengingat sosok Cakka, dan jantungnya pun berdetak tak karuan. Terasa begitu sakit saat mengingat kembali ekspresi Cakka saat ia memergogi aktifitasnya bersama Shilla beberapa saat lalu.

            “Mamaaaaaa!” teriak Agni tak karuan. Gadis manis itu mulai tampak menangis sambil menahan dadanya yang benar-benar terasa sakit. “Maaaaa!” Agni semakin merengek, tak lama seorang wanita cantik tampak memasuki kamar Agni dengan wajah paniknya.

            “Kamu kenapa sayang?” tanya sang Mama khawatir. Agni menggeleng pelan sambil menggigit bibir bawahnya dan menekan-nekan pelan dadanya.

            “Agni…. kayaknya  Agni…” Agni terengah, membuat wajah sang Mama terlihat semakin cemas. “Serangan jantung. Agni kayaknya kena serangan jantung, Ma,” ucap Agni akhirnya.

            “APA?”

            ---

Agni menundukkan kepalanya dalam, tak berani menatap wajah sang Papa, Mama, dan juga Gabriel kakaknya yang seorang dokter umum. Gadis manis itu tampak cemberut sambil meremas-remas jemarinya. Gabriel menggeleng kecil menatap adiknya itu. sementara Papa tampak mengurut pelan pelipisnya dan Mama berusaha menenangkan sang suami dengan mengelus pelan lengan kekar Papa.

            “Kamu ini hobi banget ya buat orang tua cemas? Untung saja Papa sama Mama kamu gak punya penyakit jantung. Kalau sampai tadi Mama atau Papa langsung tewas denger kalau kamu kena serangan jantung begimana, Ag?” omel sang Papa mentap heran putrinya itu. ini si Agni dari dulu selalu saja suka bertindak heboh, buat seisi rumah geger.

            Beberapa jam lalu gara-gara panik, Mama sampai nelpon Papa yang lagi kerja di kantor, dan Gabriel yang masih ada jadwal praktek di salah satu rumah sakit swasta milik keluarga mereka, dan karena kedua pria itu memiliki tingkat kekhawatiran dan rasa sayang yang berlebihan untuk Agni, akhirnya mau gak mau keduanya pun akhirnya memutuskan melesat pulang secepat mungkin.

            “Tapi beneran kok, Pa, tadi itu jantung Agni dagdigdug gak karuan gitu,” Agni berusaha membela diri.

            “Tapi tadi Kakak kamu bilang, kamu baik-baik saja. Kamu jangan meremehkan Kakak kamu, Ag. Gabriel itu lulusan S3 kedokteran di luar negeri. Dia udah dapat berbagai penghargaan karena merupakan salah satu dokter terbaik di indonesia. Jadi tidak mungkin Kakak kamu keliru menangani adiknya sendiri,” terang sang Papa menatap wajah Agni lekat.

            “Tapi kok…” Agni bersikeras. Gabriel pun akhirnya bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Agni.

            “Kamu Cuma lagi stres,Ag. Cuma lagi banyak beban pikiran aja makannya begitu,” ucap Gabriel berusaha menenangkan kedua orang tuanya dan juga Agni tentunya.

            “Stres? Kakak bilangi Agni gila gitu?” tanya Agni menatap Gabriel dengan mata menyipit. Gabriel tergelak, sambil mengacak pelan puncak kepala Agni.

            “Yang lebih tepatnya lagi, sepertinya kamu lagi galau,” telak Gabriel dan kali ini sukses membuat Agni cemberut.

            Agni melirik sang Papa, pria itu tampak menggeleng masih dengan menekan pelan pelipisnya, sementara sang Mama mulai tampak tersenyum geli.

            ---

Nova dan Ify tertawa terbahak-bahak mendengarkan curhatan Agni saat ini. Kebutalan hari ini beberapa guru tengah mengadakan rapat menjelang kelulusan sehingga kelas Agni dan beberapa kelas lainnya tidak belajar. Karena bosan terus diam di dalam kelas Agni pun akhirnya memboyong kedua sahabatnya itu ke perpustakaan di lantai tiga, perpustakkan yang tak seorang pun berani naik kecuali kepepet, karena stok atau persediaan buku di perpus lantai satu atau dua habis.

            “Puas banget lo berdua ngetawain gue yah,” ucap Agni sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap kedua sahabatnya itu sebal.

            “Lo kocak banget tau gak sih? Hey, Ag. Dari cerita lo aja kita udah bisa nyimpulin, kalau lo itu udah mulai jatuh cinta sama Pak Cakka,” terang Ify menggebu dan di angguk setujui penuh semangat oleh Nova.

            “What? Gue? Jatuh cinta sama Pak Cakka?” Agni berteriak nyaring, refleks membuat Nova bergerak dan membekap mulut Agni kuat.

            “Berisik lo, Ag,” Nova menoyor pelan kepala Agni.

            “Abis lo gila mikirnya begitu,” ucap Agni sambil mengilap mulutnya bekas bekapan Nova tadi.

            “Ag, lo gak usah gengsi sama kita. Yah, kita hapal ucapan lo yang lo gak suka cowok seumuran Pak Cakka, karena lo sukanya model Rio, but, setiap orang gak bisa nentuin sendiri gitu aja sama siapa dia jatuh cinta,” ucap Ify bijak.

            “Jawab jujur?” seru Nova kemudian.

            Agni mengangguk.

            “Waktu lo liat Pak Cakka sama Kak Shilla, lo ngerasa dada lo kayak di tusuk-tusuk gak?” tanya Nova. Agni kembali mengangguk. “Trus mata lo berasa berkunang-kunang?” Agni mengangguk lagi.

            Nova dan Ify pun saling berpandangan dan keduanya tersenyum bersamaan sambil merangkul Agni. “Gak salah lagi. Lo, positif jatuh cinta sama Pak Cakka,” seru Nova penuh semangat.

            ---
Bruuk. Agni jatuh tersungkur saat tanpa sengaja ia  menabrak sebuah mobil yang baru saja hendak keluar dari parkiran. Agni mendadak ngeblank akibat curhat dengan kedua sahabatnya tadi. Agni terduduk di aspal begitu saja, membiarkan skeatboardnya meluncur entah kemana.

            “Agni?” seru sebuah suara. Dengan gerakkan layaknya zombi Agni menoleh dan detik itu juga mata bonekanya tampak melotot. “Kamu gak papa?” tanya seseorang itu lagi.

            Agni menggeleng pelan. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi linglung. Dan tanpa menunggu persetujuan atau pun protes dari Agni sosok tersebut mengangkat tubuh mungil Agni dan membopongnya menuju mobil.

            ---
Agni  tersadar dari kelinglungannya saat mobil yang ia tumpangin kini berbelok ke daerah perumahan yang tak asing baginya, dan dengan cepat Agni pun menoleh ke samping kanannya.

            “Berhenti!” seru Agni sambil menepuk keras lengan Cakka. “Hissst,” Agni meringis pelan saat mobil berhenti mendadak membuat dahinya membentur dasbor. Cakka menoleh dan menatap kearah Agni dengan cemas.

            “Kamu gak papa?” tanya Cakka yang berusaha menyentuh pundak Agni.

            “Gak. Saya gak papa kok, Pak,” ucap Agni dan menghindari sentuhan Cakka. Cakka tampak mengerutkan dahi menatap Agni bingung.

            “Saya turun disini aja,” seru Agni lagi dan bersiap meraih tasnya.

            “Kok gitu? Sedikit lagi kita sampai di rumah Shilla. Aku antar kamu sampai rumahnya yah?” ucap dan tanya Cakka. Agni tampak ragu. Cakka pun menatap intens manik mata Agni kemudian Agni pun akhirnya mengangguk.

            ---

Sebuah kecupan mendarat di dahi Shilla. Gadis itu tampak tersenyum senang dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi pemuda di hadapannya penuh sayang.

            “Aduuuh. Pelan-pelan dong, Pak,” seru Agni yang untuk kedua kali dahinya menyentuh dasbor. Mobil Cakka mendadak berhenti. Agni menoleh kesamping kanannya kemudian mengikuti arah pandang Cakka.

            Agni menghela napas berat. Di liriknya Cakka lagi. Wajah pemuda itu tampak mengeras sembari mencengkram dengan erat setiurnya.

            Tap. Agni mengurungkan niatnya hendak keluar dari dalam mobil Cakka, saat sentuhan lembut melingkar di pergelangan mungilnya. Agni melirik perlahan ke arah Cakka. Pemuda itu tampak tersenyum lirih dan menunduk sambil mengerjabkan mata beberapa kali. Agni mendadak merasakan sesak napas itu kembali menyerang. Agni bingung. Ia hanya mampu diam menatap Cakka sendu.

            Agni tersentak kaget, saat Cakka tiba-tiba saja menarik tubuh mungilnya dan memeluknya erat. cakka membenamkan wajahnya di pundak Agni. isakkan halusnya terdengar. Agni merasakan sesuatu seakan menindih kepalanya detik itu juga, dengan kaku Agni pun menggerakkan tangannya dan menepuk pelan punggung Cakka.
            ---
Dan disini lah mereka sekarang. Duduk di atas mobil sambil memandang deru ombak di hadapan mereka dengan tatapan berbeda. Agni menyerut es kelapanya perlahan sambil mencuri pandang pada Cakka yang duduk di sampingnya masih dengan wajah murungnya.

            “Bapak terlalu baik untuk perempuan seperti Kak Shilla,” ucap Agni akhirnya. Pandangannya kini menatap lurus ke tengah pantai.

            “Panggil Cakka aja. Aku belum terlalu tua untuk kamu panggil bapak,” Cakka akhirnya bersuara, membuat Agni kembali menoleh dan sedikit terkikik. Ia mengangguk mengerti.

            “Aku tau kok, seberapa besar perasaan kamu buat Kak Shilla,” lanjut Agni. “Tapi kamu juga harus tau, ada orang lain yang mencintai dia jauh lebih besar,”

            “Jadi, maksud kamu cinta aku kurang besar buat Shilla gitu?” tanya Cakka. Agni tertawa pelan sambil melompat turun dari atas mobil dan kini berdiri tepat di hadapan Cakka.

            “Kamu yakin, kamu memang cinta sama kak Shilla?” tanya Agni menatap Cakka tepat di manik mata. Cakka tampak diam, seolah memikirkan ucapan Agni barusan.

            “Gak mungkin aku sesedih ini kalau aku memang gak cinta sama Shilla,” ucap Cakka yang jujur membuat hati Agni memdadak ngilu.

            Agni diam sejenak. Kedua matanya mulai terasa perih. Agni menghirup udara sebanyak mungkin dan berusaha tersenyum. Ia memutar tubuhnya dan kini menatap kearah pantai, bersamaan dengan itu airmatanya mendadak mengalir. Cakka tampak mengerutkan dahinya, memandang langkah Agni yang berjalan ketepi pantai dengan dahi mengerut.

            “Kalau kamu memang cinta sama Kak Shilla, seharusnya kamu berani. Berani merebut dia untuk kamu miliki,” gumam Agni setelah Cakka berdiri bersisihan di sampingnya. Cakka menoleh, sedikit terperanjat melihat garis air di wajah manis Agni.

            “Alasan klasik, dan sangat koyol, kalau kamu berfikir bakal bahagia jika melihat dia bahagia. Itu jelas-jelas bohong besar,” Agni menjatuhkan tubuhnya di atas pasir perlahan sambil kini memeluk kedua lututnya.

            “Kalau kamu benar-benar cinta, kamu pasti memiliki rasa egois yang berharap dia tetap terus di sisi kamu,” lanjut Agni dan kini ia menoleh,menatap Cakka lekat-lekat.

            Cakka tertegun. Ia diam seolah terhanyut akan tatapan dan ucapan yang baru saja Agni katakan. Perlahan seulas senyum tercetak di sudut bibirnya.

            “Kamu benar!” seru Cakka kemudian. Agni sempat tersentak kaget, namun sebisa mungkin ia berusaha terlihat tenang. “Makasih ya, Ag, udah mau nemenin aku dan denger aku curhat,” ucap Cakka tulus. Agni pun tersenyum manis dan mengangguk pelan.

            ---
“Paaaaaak, jangan di tutup dulu pintunyaaa!” seru Agni dari depan pintu gerbang dan dengan gesit mendorong skeatnya. Ia memutar tubuhnya dan menyeringai lebar pada Pak Sapta. “Makasih ya, Pak. Hehehe. Bapak emang yang paling baik deh,” ucap Agni lagi kemudian bergegas menuju kelasnya.

            “Dasar si eneng,” Pak Sapta bergumam sembari menggeleng kecil, menatap punggung Agni yang semakin menjauh.

            “Telat lagi lo?” serbu Nova saat Agni sudah menjatuhkan pantatnya di atas kursi. Ia hanya berdehem seadanya sambil mengeluarkan perlengkapan tulisnya.

            “Sebenernya gue hari ini males banget sekolah. Tapi berhubung bonyok sama Kakak gue yang super nyebelin itu ribut mulu dari gue mulai melek, so, dengan berat hati akhirnya gue berangkat,” ujar Agni dengan santai sambil menghentakkan beberapa alat tulisnya di atas meja.

            Nova dan Ify cengo. Keduanya saling berpandangan dan menatap Agni lekat.

            “Lo gak habis kesambet kan?” tanya Ify dan meletakkan telapak tangannya di dahi Agni.

            “Apaan sih, Fy!” seru Agni dan menepis tangan Ify begitu saja membuat gadis berwajah tirus itu semakin tercengang. Gak biasanya Agni begini.

            “Lo kenapa sih, Ag?” tanya Nova yang kali ini menatap Agni lembut. Agni menghentikan kesibukannya yang sedari tadi membongkar tas dan tampak menghela napas berat. Ia menunduk selama beberapa detik, kemudian menengadah, tersenyum simpul dan menggeleng kecil.

            “Gue gak papa kok,” ucap Agni seadanya.

            ---


            “Kalau kamu memang cinta sama Kak Shilla, seharusnya kamu berani. Berani merebut dia untuk kamu miliki,”

            “Alasan klasik, dan sangat konyol, kalau kamu berfikir bakal bahagia jika melihat dia bahagia. Itu jelas-jelas bohong besar,”

            “Kalau kamu benar-benar cinta, kamu pasti memiliki rasa egois yang berharap dia tetap terus di sisi kamu,”


            Seulas senyum tersungging di sudut bibir Cakka. Ia menggeleng pelan sembari menggaruk pelipisnya pelan. Mendadak ucapan Agni kemarin membuat perasaannya lega. Padahal dia tidak menjalankan sesuai apa yang Agni ucapkan. Ia hanya diam semalaman, merenungi ucapan gadis itu dan gak tau kenapa kalimatnya begitu merasuk dan membuat perasaan Cakka mendadak plong.

            “Kenapa kamu senyum-senyum gitu, Kka?” Cakka tersentak kaget dan dengan sigap bangkit dari posisi duduknya menatap pria yang jauh lebih tua di hadapannya itu sedikit terkejut.

            “Papa? Kapan Papa datang?” tanya Cakka dan mengamati sekeliling ruangannya dengan tampang bingung. Pria gagah itu tampak tersenyum dan berjalan menghampiri Cakka yang kini sudah berdiri di hadapan mejanya.

            “Kamu ini, dari tadi Papa perhatiin melamun terus. Apa yang lagi kamu pikirkan sih? Sampai Papamu sudah ada di sini kamunya gak tau,” ucap pria itu dan kini merangkul erat pundak Cakka. Cakka tertawa pelan dan balas merangkul sang Papa.

            “Emmmm, Pa!” seru Cakka tak lama kemudian. Pria itu mengangkat wajahnya dan kini menatap wajah Cakka lekat. Dengan intonasi seperti itu pasti ada sesuatu yang penting yang Cakka ingin sampaikan padanya.

            “Aku udah nemuin calon menantu yang pas untuk Papa,” ucap Cakka sambil menepuk-nepuk pelan pundak sang Papa.

            “Serius?” sang Papa menatap Cakka tak percaya. cakka tersenyum cerah dan mengangguk pasti.

            ---

“Yang ini cantik gak?” tanya Shilla sambil berputar di hadapan Agni. Agni yang tadinya terlihat malas pun akhirnya bangkit dari posisi duduknya dan menatap Shilla lekat. Harus ia akui, kakak sepupunya itu memang terlihat anggun dengan gaun pengantin berwarna coklat yang melekat begitu sempurna di tubuh rampingnya.

            Agni mengangguk semangat. “Lo cantik banget kak,” seru Agni dan untuk pertama kalinya di rangkulnya lengan Shilla. Shilla tertawa pelan dan membalas rangkulan Agni.

            “Gue boleh tanya sesuatu gak, Kak?” tanya Agni kemudian. Shilla menoleh, menatap wajah Agni sekilas dan mengangguk kecil.

            “Lo sebenernya cinta gak sih, sama Kak Riko?” tanya Agni ragu sontak membuat Shilla sedikit terkikik dan mengacak pelan puncak kepala Agni.

            “Kok lo nanya begituan sih?” di tatapnya manik mata Agni.

            “Habis gue heran sama lo. Lo tau, kak Riko itu cinta mati banget sama lo. Dia setia selama 5 tahun pacaran, tapi lonya entah udah berapa ratus kali ngekhianati dia,” ucap Agni jujur dan lagi-lagi membuat Shilla tergelak.

            Shilla tersenyum dan kini menuntun Agni menuju salah satu sofa di sudut ruangan. “Ag, lo tau gimana sifat gue kan?” tanya Shilla sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Agni. Agni mengangguk.

            “Gue. Dari dulunya itu tipe cewek yang memang suka jelalatan,” aku Shilla membuat Agni kali ini tergelak. “Tapi lo harus ingat, gue juga manusia. Cewek biasa yang juga pengen di cintai secara tulus. Bukan Cuma karena status gue anak seorang pengusaha atau pun karena fisik gue,” lanjut Shilla.

            “Dari semua cowok yang gue kenal, gue Cuma nemuin itu di Riko…. Dan Cakka,” ucap Shilla dan kali ini membuat kedua mata boneka Agni membulat lebar.

            “Cakka?”

            Shilla mengangguk.

            “Cakka itu temen lama aku, sebelum aku kenal sama Riko. Tapi beberapa tahun kami putus hubungan karena Cakka ngelanjutin studynya di luar negeri, dan kami baru ketemu lagi setahun yang lalu,” jelas Shilla.

            “Dia cinta pertama aku, Ag. Tapi…. Walau begitu bukan dia yang terakhir,” ucap Shilla. Agni tampak menaikkan satu alisnya menatap Shilla tak mengerti.

            “Aku tau Cakka tulus. Tapi aku gak bisa bohong juga, kalau aku udah benar-benar jatuh cinta sama Riko. Dan, 5 tahun bukan waktu yang singkat buat aku belajar mencintai dan mengerti Riko,”

            “Jadi lo lebih milih nyakitin Cakka dengan cara lo yang ngasih dia harapan kosong gitu?” potong Agni cepat. Dadanya mendadak bergemuruh.

            “Jangan salah faham, Ag. Gue udah ngomong sejujurnya sama Cakka tentang hubungan gue dan Riko. Gue juga gak habis pikir kenapa waktu itu Cakka gak keberatan gue jadiin yang kedua,” lanjut Shilla.

            “Itu karena dia benar-benar cinta sama lo, Kak,” ucap Agni dan tanpa sadar kedua matanya mulai tampak berkaca. “Lo…. Beneran gak ada rasa sedikit pun sama dia?” tanya Agni terbata. Shilla tersenyum manis sambil mengelus lembut pipi chubby Agni.

            “Beberapa tahun yang lalu mungkin ada. Tapi sekarang, rasa itu cukup sebatas rasa sayang gue untuk sahabat,” ucap Shilla bijak.

            “And, by the way, Ag. Kapan lo mau jujur soal perasaan lo sendiri?” tanya Shilla kemudian dan kontan membuat mata Agni kini terbelalak lebar.

            “Huh?”

            “Lo gak perlu ngeles. Mata lo, udah cukup ngasih jawabannya,”

            ---

Agni berdiri di sudut ruangan, menatap Shilla dan Riko yang berdiri bersisihan di depan pelaminan bernuansa pastel dengan tatapan berbinar. Agni tersenyum geli jika mengingat seberapa kesalnya ia dengan sepupunya ini. Namun sekarang, perasaan itu mendadak berubah jadi perasaan sayang dan bangga.

            “Lo berani jamin gak, kalau Shilla bakal setia dan pernikahan mereka bakal baik-baik aja sampai akhir?” Agni sedikit tersentak begitu sebuah suara menyusup gendang telinganya. Ia menoleh dan seketika mendelik sebal menatap Ify yang tengah bersidekap di samping kanannya.

            “Sialan lo, Fy. Ngagetin,” dumel Agni. Ify tak menggubris dan ia hanya menatap Shilla serius.

            “Shilla cantik banget ya,” gumam Nova dan di angguk setujui oleh Agni.

            “Dan gue harap sifat buruknya itu juga bisa berubah secantik wajahnya,” lanjut Ify. Agni dan Nova saling berpandangan lantas kedua gadis itu pun tergelak bersamaan.

            “Kenapa lo yang jadi senewen, Fy?” tanya Agni menatap sahabatnya itu heran. Ify hanya bergidik kecil dan dengan santai melenggang ke arah pelaminan.

            ---

“Sendirian aja?”

            “Cakka?” Agni terlonjak kaget saat mendapati Cakka kini tengah berdiri di sampingnya. Ia menatap sekeliling balkon yang saat ini memang begitu sepi. Setelah acara lempar bunga beberapa jam lalu dan kebetulan Agni yang mendapatkan bunga itu, ia pun memutuskan untuk menyendiri di balkon. Sumpek juga lama-lama berada di tengah keramaian.

            “Udah kebelet ya?” tanya Cakka melirik kearah buket yang berada dalam genggaman Agni dan menatap gadis itu dengan sorot mata jahil.

            “Eh?” dengan gerakkan cepat Agni menyembunyikan buketnya di balik punggung. “Tadi itu iseng ikutan aja kok. Gak ada ambisi buat mikirin itu. lagian, aku juga baru tamat sekolah,” ucap Agni dan kini menatap buket di tangannya sambil tersenyum.

            “Ini! Buat kamu aja,” seru Agni sesaat kemudian sembari menyodorkan buket bunganya ke arah Cakka. Cakka tampak menaikkan satu alisnya dan menatap Agni heran.

            “Buat aku?” tanya Cakka. Tangannya terulur perlahan untuk meraih buket bunga tersebut. “Kan kamu yang udah susah-susah dapetinnya, kok kasihin ke aku sih?” Cakka menatap lurus manik mata Agni.

            “Kamu lebih butuh ini dari pada aku. Nanti, kalau kamu udah menemukan seseorang yang pas di hati kamu, kamu boleh balikin bunganya sama aku,” terang Agni dengan wajah yang tampak berbinar.

            Cakka tersneyum manis. Ia yakin atas pilihannya kali ini, dan ia tak akan salah lagi. Tanpa ragu Cakka menerima buket bunga itu dan menghirup aromanya selama beberapa detik. Agni merasakan sesuatu seakan menusuk dadanya. Sepertinya memang kontrak yang di tuliskan takdir untuk mereka hanya sebatas guru dan mantan murid, untuk lebih dari itu, sepertinya tidak akan mungkin.

            Agni memutar tubuhnya perlahan. Berniat beranjak dan pergi menjauh dari hadapan Cakka detik itu juga.

            “Agni!” Agni menghentikan langkahnya. Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dan perlahan sepasang tangan kekar merengkuh pundaknya dan menghadapkan tubuh mungilnya ke arah Cakka –kembali.

            “Ini, aku kembalikan!” Cakka menyodorkan kembali bunga tersebut pada Agni. agni tampak menaikkan satu alisnya dan menatap Cakka dengan dahi mengerut. “Aku sudah menemukan gadis itu,” ucap Cakka dengan wajah dan pancaran mata yang berbinar. Agni memaksakan diri menarik sudut bibirnya, namun mustahil, ia hanya tampak meringis dan akhirnya menundukkan kepalanya menatap buket bunga yang kini sudah kembali dalam genggamannya.

            “Dan sekarang…. Gadis itu tengah berdiri tepat di hadapan aku,”

            Agni mengangkat wajahnya dengan cepat. Kedua matanya tampak melebar dan menatap Cakka dengan sorot mata tak percaya.

            “Ma –maksud kamu?”

            Cakka menggerakkan tangan kanannya dan mengelus lembut pipi chubby Agni. “would you marry me?” tanya Cakka pelan, penuh penekan. Mendadak Agni merasakan sesuatu seakan menyetrumnya. Kakinya terasa lemas dan perutnya mendadak mulas.

            “Bapak gak sedang bercanda kan?” Agni nyaris berteriak. Shyok. Mataya mengerjab lucu dan kepalanya menggeleng kecil. Cakka terkikik geli melihat reaksi Agni. semakin ia eratkan cengkramannya di lengan Agni dan menarik gadis itu sampai menempel kembali padanya.

            “Aku Cuma lebih tua 4 tahun di atas aku. So, pleaseeee, berhenti panggil aku dengan sebutan itu,” ucap Cakka dan menatap tepat manik mata Agni. “Dan…. Aku serius. Aku sayang sama kamu, dan aku sedang melamar kamu sekarang,” lanjut Cakka dan kini mendekatkan wajahnya pada Agni perlahan.

            “Oke. Aku terima!” seru Agni dan dengan cepat menutup mulutnya dengan kedua tangan. Cakka menatap Agni dengan ekspresi jahil detik kemudian ia pun merengkuh tubuh mungil Agni seerat mungkin.

            “I love you,” bisik Cakka tepat di telinga Agni. Agni tertawa pelan dalam dekapan Cakka dan dengan erat membalas pelukkan Cakka.

            “I love you too,”

            ---

“Yesss, akhirnyaaaa. Gue pernah ngomong soal karma belum, Va sama lo?” ucap dan tanya Ify menatap Nova yang saat itu berdiri di sampingnya masih menatap ke arah balkon dengan senyum merekah. Nova menggeleng, menggerakkan kepalanya pelan masih dengan ekspresi bahagia.

            “Belum. Emang kenapa?” tanya Nova.

            “Nah, contoh nyata dari teori karma itu adalah Agni. masih ingat gak, waktu itu dia sempet ngomong kalau mustahil dia bisa jatuh cinta sama Pak Cakka?”

            Nova mengangguk antusian.

            “And see? Kenyataannya?” tanya Ify sambil menunjuk ke arah balkon dengan tampang berseri dan kini membuat Nova, Shilla dan juga Riko yang berdiri di sampingnya tertawa bersamaan.

_FIN_

Lohaaaaa. Enjoy read guesss? Pasti gak deh yah? Hahaha, harap maklum, emang kalo penulis amatir begini lah keadaannya. Mencoba lebih baik eeh tapi hasilnya malas selalu lebih jelek -___- *plak* . and gue sadar banget ini feelnya kurang guys. Huhu. but, I hope like it yah all. And one more, don’t be silince reader’s okey? Yang baca MINIMAL likenya dong yah ;)


@Cluvers_Agniaza

Planless.. (SS)



oleh Zet Meirain T pada 30 September 2012 pukul 12:15 ·
Ini belum ada gue edit. So klo banyak typo mohon maaf yahhh. Ceritanya badai absurd. Rada gak nyambung juga -____- but, enjoy read aja yah all

            ----

Agni mengerjabkan matanya selama beberapa detik, sembari meremas kuat rambut panjangnya yang berantakkan dan perlahan bergerak di balik selimutnya. Gadis manis itu berhenti sesaat dari aktivitas bergerak tak menentunya di balik selimut saat ia merasakan sesuatu yang hangat terasa menyentuh kulit punggungnya dan melingkar sempurna di perutnya. Agni meneguk ludahnya dengan sukar, dan pelan-pelan gadis manis itu memberanikan diri melihat ke balik selimut krem yang membalut tubuhnya saat itu.

            Agni memekik tertahan sambil menahan mulutnya dengan tangan kanan. Kepalanya semakin terasa pusing. Semua berputar dengan cepat. Pesta. Minuman beralkohol. Perasaan sedih. Seseorang yang menyebalkan yang mendekatinya. Kamar. Dan….

            “Oh-my-god,” gumam Agni dan dengan gerakkan cepat ia bangkit dari posisi tidurnya, menyambar seluruh pakaian dan barang-barang miliknya yang berserakkan di lantai kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

            Sementara itu, seseorang yang yang tidur sambil memeluk tubuh mungil Agni sedikit tersentak kaget saat gadis manis itu dengan gerakkan cepat dan tanpa izin bangkit begitu saja dari rengkuhannya. Sosok itu tampak menekan-nekan puncak kepalanya dengan kedua mata –masih– dalam keadaan tertutup rapat.

            “Bisa jelasin sama gue, kenapa kita bisa ada di sini?” suara lembut itu langsung membuat sosok yang tadi masih berbaring di atas kasur terlonjak kaget. cowok itu melirik cepat ke arah pintu kamar mandi dan seketika kedua bola matanya yang berwarna biru laut membulat lebar, melihat seorang gadis cantik dengan pakaian yang yahhh…. Berdiri di hadapannya sambil bersidekap.

            “Lo? Kok lo ada di sini?” cowok itu balik bertanya. Agni tampak menghela napas berat dan dengan langkah menghentak berjalan menuju sofa meraih blezer pendeknya di lantai serta menyambar hight heelsnya yang entah sejak kapan berada di bawa kolong sofa.

            “Seharusnya gue yang tanya sama lo,” suara Agni terdengar tenang. Gadis itu berjalan menuju cermin. Mematut diri sejenak sembari menyanggul asal rambut panjangnya yang bergelombang.

            “Lo gak lagi ngejebak gue kan?” Agni berbalik cepat, matanya menyipit memandang cowok yang masih duduk sambil memeluk selimutnya dan melipat kedua tangannya di depan dada.

            “Seharusnya gue yang nanya sama lo. Lo gak berencana buat perkosa gue kan?” tanya Agni dan menatap cowok berkulit putih itu tepat di manik mata. Cowok itu tampak melotot lebar dan dengan gerakkan kaku melirik ke balik selimutnya.

            Agni terkikik kecil melihat tampang konyol cowok itu. ia menggeleng pelan. Kembali memutar tubuhnya menghadap cermin dan langsung saja membubuhkan bedak dan lipglos tipis di wajah dan bibir mungilnya.

            “Oke!” seru Agni setelah ia selesai mendadani dirinya. Cowok itu kembali mengangkat wajahnya dan menatap Agni intens. Ia meneguk ludahnya dengan gerakkan lambat. Gadis di hadapannya ini benar-benar… errr, cowok itu menggigit bibir bawahnya dan meremas selimut yang masih membalut tubuhnya dengan kuat.

            “Kita anggap aja kejadian ini gak pernah ada. Gue tau, kalau temen-temen, keluarga dan pacar lo sampai tau soal ini, lo pasti bisa habis,” ucap Agni. gadis itu mulai sibuk melilitkan tali sepatunya di betis jenjangnya.

            Cowok itu perlahan bangkit dari posisi duduknya, meraih boxernya yang tergeletak di tepi ranjang dan berjalan pelan menghampiri Agni yang masih sibuk memasang high heelsnya.

            Agni mengangkat wajahnya setelah ia selesai sembari tersenyum manis saat mendapati cowok itu telah berdiri beberapa langkah di hadapannya.

            “Lo serius?” tanya cowok itu menatap Agni ragu.

            “Yeap,” Agni meraih tas tangannya, bersiap-siap beranjak.

            “Lo…. Gak nuntut gue untuk tanggung jawab?” tanya cowok itu lagi. Agni kembali menghentikan langkahnya di ambang pintu dan menoleh ke arah cowok itu lagi.

            “Kalau gue hamil pasti gue minta pertanggung jawaban lo,” jawab Agni dengan ekspresi wajah dingin. Mendadak wajah cowok itu tampak menegang, namun detik kemudian Agni tertawa pelan dan menggeleng kecil.

            “Gue bercanda. Gue gak mungkin hamil. Dan gue gak akan minta apa pun dari lo,” ucap Agni masih dengan seulas senyum tersungging di sudut bibirnya. Cowok itu tampak tertegun.

            “Oke. selamat ulang tahun, ya? and… thank’s udah ngundang gue,” ucap Agni kemudian. “Setelah ini, gue janji…. Gak bakal muncul di hadapan lo lagi,” lanjut Agni dan dengan langkah tegak ia pun melangkah keluar dari kamar bergaya mini malis itu.

            ---

Agni melangkah gontai memasuki halaman luas rumah bergaya eropa tempat ia tinggal. Sesekali Agni melirik arlogi di pergelangan kirinya dan wajah manis itu seketika tampak dingin. Senyum manisnya beberapa saat lalu entah raip kemana. Agni menghentikan langkahnya di depan pintu rumah saat melihat sebuah nisan putih bertengger manis di sana. Dahi Agni mengerut samar. Kepalanya masih merasa pusing. Ia menggeleng pelan, tak memperdulikan mobil itu dan dengan langkah sempoyongan kembali meneruskan langkahnya.

            “Gue pulaaaaang, anybody hommmmme?” teriak Agni tak karuan saat pintu rumah sudah menganga lebar. Agni kembali mengerjab. Ruangan utama rumah mewahnya tampak begitu gelap. Pelan-pelan Agni pun berjalan menuju tangga.

            Agni kembali menghentikkan langkahnya di depan sebuah pintu kamar yang sedikit terbuka –yang berada tepat di samping kamar tidurnya–  dan melangkah hati-hati menghampiri kamar tersebut. Agni tersenyum kecut, dan dengan satu hentakkan keras mendorong pintu di hadapannya, membuat seorang pemuda yang saat itu tengah siap menindih seseorang di bawahnya tersentak kaget, dan keduanya dengan cepat menoleh ke arah pintu.

            Keduanya tampak melotot saat melihat Agni berdiri dengan tangan yang ia lipat di depan dada dan sesekali gadis manis itu tampak menguap dan menggaruk tengkuk belakangnya.

            “Huhhhh. Keluarga kita…. Emang udah gak beres ya?” ucap Agni tajam sambil terkikik kecil. Cowok itu tampak dengan sukar meneguk ludahnya dengan gerakkan cepat melompat turun dari atas kasur dan meraih celana jeansnya di sudut sofa.

            “Ag!” Agni menepis kasar tangan cowok itu dan dengan tajam menatap lurus melewati pundak cowok di hadapannya itu.

            “Gue gak tau itu cewek ke berapa yang kakak bawa ke rumah,” ucap Agni dingin dan hendak memutar tubuhnya, namun dengan sigap tangan kekar itu menahan lengan mungil Agni, membuat gadis manis itu tertahan di tempatnya berdiri.

            “Lo gak akan ngerti, Ag,” ucap cowok itu menatap tepat di kedua manik mata Agni. Agni tersentak. Kembali di tepisnya tangan sang kakak yang masih mencengkram lengannya dan mendorong kuat tubuh kekar itu hingga mundur menjauh darinya.

            “Dan kakak juga gak pernah ngerti soal perasaan Agni. Gak pernah!” teriak Agni tepat di wajah sang kakak dan dengan sigap gadis mungil itu berjalan menuju kamarnya. membanting pintu, mendiamkan suara bariton itu yang terus saja menyerukan namanya di balik pintu.

            Agni menangis. Gadis mungil itu merosot di balik pintu sambil memeluk erat kedua lututnya. “Seandainya Mama masih ada di samping Agni…. Agni yakin, Ma, keluarga kita gak akan sehancur ini,” gumam Agni lirih.

            ---

“Agni, kakak bisa jelasin masalah semalam sama kamu,”

            “Mbok, kunci mobil aku mana?” Agni meneguk dengan kasar susu hangatnya dan dengan sigap bangkit dari posisi duduknya.

            “Ini Non!” seru Mbok Min dan menyodorkan sebuah kunci mobil sport pada majikannya itu.

            “Ag! Kamu dengerin Kak Alvin dulu,” Alvin menarik paksa lengan adiknya itu, membuat Agni mau tak mau akhirnya kembali menatapnya.

            Alvin diam sejenak. Di tatapnya lekat manik mata Agni dan tampak dengan susah Alvin tengah mengatur napasnya. “Cewek itu pacar kelima bulan ini. Dia mantan pacar aku sebelumnya juga. Dan…. Dia hamil,” terang Alvin sontak membuat Agni yang tadinya menatap lurus ke bawah kini tampak melotot tajam menatap wajah sang kakak.

            “Aku mau nikahin dia. Tadi malam…. Dia nangis-nangis datang ke rumah. Kamu tau, aku memang paling sayang banget sama dia, dan aku gak bisa ngontrol diri aku, Ag,” lanjut Alvin dan itu membuat Agni merasa kepalanya semakin berputar cepat.

            Mulut Agni tampak bergerak pelan, seakan ingin mengucapkan sesuatu. Namun rasa sesak di dadanya tak mampu membuatnya mengeluarkan sepatah kata pun dan akhirnya sebuah tamparan pun mendarat di pipi putih Alvin. Alvin tersentak kaget, dan memandang wajah adiknya yang saat ini mulai di banjiri airmata dengan perasaan pilu.

            “Terserah. Gue udah gak perduli lagi sama lo,” seru Agni dan dengan sigap ia berlari menuju mobilnya.

            ---

Agni menghentikan mobilnya di parkiran utama gedung kampusnya. Gadis manis itu tidak langsung turun dari dalam mobilnya dan tampak menghempaskan tubuhnya dengan keras di sandaran kursi sambil memijit pelan pelipisnya.

            Agni tersenyum miris. Sesak itu kembali merasuk di dadanya. Tak ada seorang pun yang peduli atas perasaannya. Atas sakit hatinya dan atas seluruh harapan yang selama ini terpatri dalam benaknya.

            Agni mulai sesenggukan. Gadis sempurna yang selama ini di pandang dengan tatapan kagum oleh banyak mata terlihat begitu hancur. Ia merasa seperti gumpalan kertas kotor yang siap di campakkan sejauh mungkin.

            “Gak ada waktu buat menangisi nasib lo, Ag!” gumam Agni dan dengan kasar gadis manis itu menepis sisa air di wajahnya. Ikatan rambutnya ia tarik, membuat rambut panjangnya tergerai indah dan memoleskan lipglos serta membubuhkan bedak di wajah dan bibir mungilnya.

            ---

“Agni!” Agni menoleh saat sebuah suara menyerukan namanya. Ia tersenyum manis, setelah yakin pintu mobilnya telah terkunci ia pun berjalan anggun menghampiri gadis dengan wajah tirus yang berdiri di sambing lobi

            “Lo semalam kemana aja sih? Heran. Lo sama Cakka kompakkan banget ngilangnya. Lo tau? Oik sampai stres nyariin calon suaminya itu,” serbu Ify dan langsung merangkul lengan mungil Agni, lantas keduanya pun berjalan beriringan menelusuri koridor.

            Agni terseyum kecil sembari menggeleng pelan. Namun keduanya menghentikan langkah mereka saat di ujung koridor tampak dua orang yang tengah mereka bicarakan berjalan sambil berangkulan mesra ke arah mereka.

            Ify melirik Agni yang berdiri di sampingnya selama beberapa detik, kemudian kembali melirik sosok yang kini hanya beberapa langlah lagi di hadapannya bergatian. Agni tanpa sadar menghembuskan napas berat dan bersamaan dengan itu ia kembali meneruskan langkahnya hingga membuat bahu Agni dan sosok tersebut bersentuhan. Agni sempat merasakan cowok itu melirik sedikit padanya, namun Agni tak menghiraukan dan terus saja melangkah menuju ruang kelasnya.

            “Gue ngerasa ada yang aneh sama lo berdua deh,” mendadak Agni melambatkan langkahnya dan melirik Ify sekilas.

            “Maksud lo?”

            “Iya. Biasanya tuh, lo sama Cakka pasti ribut mulu kalau ketemu deh. Selalu aja lo berdua ngebahas masalah gak penting soal acara kampus yang di ketua dia dan lo sebagai wakil,” jelas Ify dan menatap lekat-lekat wajah Agni.

            “Ag!” seru Ify kemudian. Agni hanya berdehem kecil dan kini kedua gadis itu mulai berbelok ke arah kanan. “ Lo lagi ada masalah sama si Cakka yah?” tanya Ify hati-hati. Agni mendudukkan terlebih dahulu pantatnya dan kini menatap Ify sambil tersenyum manis.

            “Gak ada kok. aneh deh lo, bukannya seharusnya bagus yah, kalau gue sama Cakka damai? So, lo sama anggota yang lain gak bakal pusing lagi ngatur buat acara pensi ntar,” jelas Agni. Ify hanya mengangguk kecil menanggapi, namun kerutan-kerutan samar masih tercetak jelas di dahi Ify.

            ---
“Hoek… hoek…” Agni mencengkram sudut westafel seerat mungkin. Kepalanya saat pulang dari kampus siang tadi mendadak pusing. Perutnya juga terasa begitu mual. Agni memijit-mijit pelan dahinya dan mendudukkan diri di atas closet sambil meremas rambutnya.

            “Gue kenapa sih?” gumam Agni lirih. perlahan ia bangkit dari posisinya dan dengan hati-hati berjalan keluar dari kamarnya. “Kepala gue pusing banget sih?” Agni masih memijit pelan pelipisnya. Langkahnya mulai sempongan. Kedua tangan mungilnya bergerak lincah mencari pegangan di sekelilingnya. Mendadak Agni merasa pandangannya semakin mengabur, dan saat tubuhnya mulai terhuyung kebelakang Agni merasa sesuatu menahan punggungnya. Merengkuh tubuh mungilnya erat dan mengguncang pelan pipinya saat kedua matanya mulai tertutup rapat.

            ---

Agni membuka matanya perlahan dan seketika ia tampak melotot lebar saat mendapati seseorang tengah duduk di ranjangnya dan menatap wajahnya penuh rasa khawatiran.

            “Lo ngapain disini?” tanya Agni to the point. Cowok itu tampak tersenyum lega dan refleks meraih satu satu tangan Agni dan menggenggamnya erat.

            “Gue tadi mau nyari Alvin. Ada yang mau gue omongi sama dia. Tapi waktu gue masuk, gue lihat lo jalannya semponyongan gitu. So, gue ngikuti lo sampai dapur dan lo langsung pingsan,” jelas cowok itu.

 Agni tampak mengerutkan dahinya dan kini cepat-cepat bangkit dari posisi tidurnya.

“Oh!” seru Agni dan menarik jemarinya dari genggaman cowok itu.

“Lo sakit?” tanyanya yang kini dengan wajah kembali terlihat cemas. Agni tampak memutar bola matanya dan menatap sosok di hadapannya dengan mata menyipit.

“Gak kok. udah ah, lo mending sekarang keluar dari kamar gue. Gue gak mau nanti Alvin lihat lo di sini terus dia mikir macem-macem,” ucap Agni dan dengan sigap ia menarik tubuh tegap sosok tersebut hinggap bangkit berdiri.

“Ag!” seru cowok itu saat ia sudah berdiri di ambang pintu. Agni menghentikan langkahnya yang hendak berbalik menuju tempat tidur kembali menoleh. “Lo baik-baik ajakan?” tanya cowok itu dan kini menatap Agni tepat di manik mata.

Agni diam sejenak, kemudian ia tersenyum manis. “Maksud lo… apa gue masih baik-baik aja setelah kejadian beberapa minggu yang lalu itu, gitu?” tanya Agni yang kini berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Cowok itu mengangguk pelan.

Agni terkikik pelan dan perlahan melangkah mendekati cowok yang kini menatapnya lebih intens.

“Lo lihat. Gue gak kayak orang yang frustasi kan?” tanya Agni. ia menggeleng pelan sambil menepuk-nepuk dada cowok di hadapannya itu. “Gue gak selemah itulah, Kka. Gue bukan tipe cewek cengeng,” ucap Agni.

“Tapi buat sebagian cewek, itu hal yang paling menakutkan buat mereka, Ag,”

Agni tertawa. Jenis tawa yang jujur membuat Cakka miris mendengarnya. Cewek itu berjalan menjauhi Cakka dan menjatuhkan dirinya di atas kasur.

“Justru…. Gue pengen ada sesuatu yang hidup disini,” ucap Agni santai sambil mengelus pelan perutnya, sontak membuat kedua mata Cakka melotot lebar. Agni kembali tertawa.

“Lo tenaaaang. Gue gak akan nyusahin lo kalau hal itu beneran terjadi. Gue Cuma pengen ngerasain posisi nyokap gue aja. Gue pengen tau rasanya jadi cewek yang ngandung di luar nikah itu seperti apa sih rasanya,” terang Agni dan kini pandangannya tampak menerawang. Cakka tertegun. Ia menatap lekat wajah Agni yang kini mulai tampak berubah. Gadis manis itu mulai mengerjab.

“Ahhh. Sorry, gue gak maksud ngomong ngaco sama lo. Oke, sebaiknya lo keluar sekarang dari kamar gue!” ucap Agni sesaat kemudian dan dengan sigap kembali mendorong tubuh kekar Cakka sampai keluar dari kamarnya, kemudian dengan bantingan keras Agni menutup rapat pintu kamarnya.

---

“Usia kandungan kamu sudah memasuki minggu ke-empat. Kamu harus jaga kesehatan sebaik mungkin, jangan sampai terlalu capek. Kandungan kamu masih sangat rentan,”

            “Heh… gue hamil?” gumam Agni sambil tertawa lirih. airmata itu terus saja mengalir di pipi chubbynya. “Gue….” Agni menghentikan langkahnya dan menatap lurus seluet jingga di hadapannya dengan tatapan nanar. Aroma pantai mendadak membuat perasaannya semakin terasa sesak.

            Agni jatuh terduduk di atas pasir sembari memeluk erat kedua lututnya.

            “Maaa, Agni kangen Mamaaa. Agni takut Maaa. Agni mau Mama ada disini. Nemenin Agni,”  bisik Agni lirih dan semakin erat ia memeluk kedua lututnya.

            ---

Tiga bulan kemudian….

            “Gue ngerasa ada yang beda deh sama lo?” Ify menatap Agni lekat. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki bergantian, membuat beberapa siswa yang saat itu berada di dalam kelas menoleh kearah meraka, termasuk juga  Cakka dan Oik yang saat itu tengah asik bermesraan di pojokkan kelas.

            Agni mulai terlihat gugup dan cepat-cepat mendudukkan diri di bangkunya.

            “Kok tumben banget lo pakai baju longgar begitu? Lo bilang baju model beginian tuh bukan style lo banget deh, tapi sekarang kok?” tanya Ify lagi, kali ini dengan nada suara lebih ringan. Agni hanya tersenyum canggung dan menggaruk tengkuk belakangnya yang tak gatal.

            “Gue lagi pengen ganti style,” jawab Agni seadanya. ify tampak menyipitkan kedua matanya menatap sahabatnya itu ragu.

            ---

Cakka memperhatikan Agni dari ujung rambut hingga ujung kepala bergantiaan –sama seperti yang Ify lakukan pagi tadi–, menatap lekat gadis manis yang tengah asik membaca sebuah buku di salah satu lorong perpustakaan yang kebetulan sunyi lekat. Cakka melirik plat yang tergantung di atas lorong, di antara rak-rak yang berdiri kokoh di samping kanan dan kirinya.

            “Kehamilan?” gumam Cakka dan kini memandang sosok Agni yang berdiri jauh di hadapannya dengan dahi mengerut.

            “Gue baru tau, kalau anak seni juga suka baca buku soal beginian,”

            Agni tersentak kaget, saat mendengar sebuah suara menyerang pendengarannya. Ia refleks mundur membuat punggungnya tanpa sengaja menabrak rak di belakangnya. Agni tampak panik, dan pandangannya tak beralih menatap sosok di hadapannya melainkan pada perutnya yang kini terasa sedikit buncit di balik kaos gombor yang saat itu ia elus dengan penuh perasaan.

            Agni terengah. Napasnya memburu sangkin takutnya terjadi sesuatu dengan calon anaknya. Dengan sigap Agni mengangkat wajahnya dan menatap garang sosok yang saat ini tengah berdiri dan menatapnya dengan ekspresi yang sulit di artikan tajam.

            “Lo gak bisa apa kalau nongol itu gak tiba-tiba kayak gitu, huh? Lo nyaris aja buat anak gu…. “ Agni tak melanjutkan lagi kalimatnya, saat menyadari wajah Cakka yang saat ini berdiri di hadapannya dengan jelas. Agni meneguk ludahnya dengan sukar. Kembali ia letakkan buku yang baru beberapa menit ia baca dan memutar tubuhnya hendak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

            “Tunggu!” dengan sigap Cakka meraih lengan mungil Agni. “Anak gue? Maksud lo, anak lo?” tanya Cakka menatap Agni dengan sorot mata kebingunagan. Agni mulai terlihat gugup. Bola matanya bergerak cepat dan dengan kasar menepis cengkeraman Cakka di lengannya.

            “Maksud gue itu…. Tadi gue terlalu serius ngebaca jadi latah deh sampai keceplosan nyebut kata ‘anak’,” Agni beralasan.

            Cakka semakin lekat menatap wajah Agni dan kini berjalan semakin mendekati tubuh mungil itu. Agni merasakan jantungnya berdetak tak karuan. Untuk pertama kalinya Agni merasakan tatapan Cakka begitu menusuk. Satu tangan cowok itu bergerak pelan dan mengarah keperut Agni. kedua mata boneka Agni tampak melotot lebar dan sebelum tangan lebar itu berhasil menyentuh perutnya dengan sigap Agni bergeser dari posisi berdirinya dan langsung berjalan cepat menuju pintu keluar.

            ---

“Gak. Gue gak mungkin bilang soal ini sama Cakka. gak mungkin. Dia sama Oik bakal tunangan, dan gue gak mau ngancuri semua kebahagian mereka,” Agni berjalan cepat menelusuri koridor dan melangkah tergesa-gesa menuju parkiran.

            “Gue udah janji, apa pun yang terjadi gue gak akan nuntut Cakka buat tanggung jawab. Gak akan,” tangis Agni semakin menjadi. Langkahnya semakin lebar menuju parkiran.

            Tiiiiin

            Agni menghentikan langkahnya sejenak dan dengan cepat menoleh. Seketika kedua mata beningnya yang masih terlihat basah membulat lebar. Sebuah motor melaju cepat ke arahnya.

            Buuuk

            “Agniiii!” Cakka berlari cepat mengahimpir Agni saat melihat tubuh mungil itu berguling pelan di aspal.  “Agni?” seru Cakka setelah ia memangku kepala Agni di pahanya. Agni tampak mengerjap pelan sambil meremas kuat lengan kemeja Cakka. ia mengangkat sedikit kepalanya dan tangisnya seketika tumpah saat melihat cairan merah pekat menjalar di kakinya.

            “Anak gue… Cakka anak gue,” rancu Agni sambil mengguncang pelan lengan Cakka. Cakka tampak melotot kaget dan ikut menatap ke arah kaki Agni. “Cakka tolong anak gue… jangan biarin dia mati… gue mohon… Cakka…” suara Agni terdengar lemah. Kedua mata Cakka terbelalak lebar. Napasnya tercekat melihat darah segar yang mengalir tanpa henti dari kaki Agni.

            ---

Agni meneguk dengan kasar apel martininya berkali-kali. Pandangannya menatap lurus. Tajam. Ke arah panggung kecil di hadapannya. Agni tersenyum miris. Cakka begitu sempurna hidupnya. Kadang Agni merasa iri dengan laki-laki itu. keluarga yang utuh. Bahagia. Dan selalu menerima dia apa adanya. Terlebih Cakka memeliki Oik, calon tunangan yang sepertinya sangat amat mencintainya.

            Hari ini adalah hari ulang tahun Cakka yang ke 19. Sebenarnya Agni malas datang ke tempat ini, mengingat Cakka itu cowok paling ia benci sepanjang hidupnya. Kenapa? Cakka sendiri gak pernah tau, apa alasan pasti cewek idola kampusnya itu membencinya. Cuma satu alasan Agni kenapa dia sangat tidak menyukai Cakka. yah, itu karena menurut Agni kehidupan Cakka terlalu sempurna. Terlalu bahagia tanpa ada seorang pun yang mungusiknya.

            Agni mulai gerah. Kalau bukan karena Ify sahabat dekatnya yang notabennenya adalah pacar Ray sahabat Cakka Agni mah ogah banget harus hadir ke tempat ini.

            Agni berjalan gontai menuju lantai dua. Kepalanya mendadak pusing dan dia merasa mual berlama-lama mendengar suara dentuman cukup keras dari tempat pesta. Agni menyipitkan matanya mengamati ruangan di sekelilingnya. Agni mengerjabkan matanya selama beberapa kali dan dengan sempoyongan berjalan menuju salah satu kamar.

            ::

Agni bangkit dari posisi tidurnya saat mendengar suara pintu terbuka dan kembali tertutup setelah terdengar suara pintu di kunci dari dalam.

            “Lo?” seru Agni dan bangkit dengan tubuh sempoyongan. Cakka, tampak kaget mendapati seseorang berada di dalam kamarnya. Cakka pun tampak memijit pelan kepalanya yang kini mulai terasa pusing. Sial. Dia paling sensitif sama yang namanya alkohol. Dan pasti tadi temen-temennya pada ngerjain nih.

            “Lo ngapain di sini?” tanya Cakka. suaranya mulai terdengar tak karuan.

            Agni terlihat tertawa dan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Cakka membiarkannya. Udara mendadak gerah dan perlahan Cakka melepaskan dasi serta kemeja yang saat itu ia kenakan.

            Cakka mendudukkan diri di tepi ranjang. Di tatapnya Agni yang masih dalam posisi berbaring lekat-lekat. Gadis cantik itu mendudukkan tubuhnya dengan gerakkan cepat dan dengan gerakkan cepat pula mengecup kilat bibir pucat Cakka yang terasa dingin.

            Kedua mata Cakka membulat lebar. Agni terbatuk dan dengan kasar di dorongnya tubuh Cakka hingga cowok itu tersungkur di lantai.

            “Gue benci sama lo,” gumam Agni yang kini mulai mengatupkan kedua matanya. Cakka meringis pelan. Ia bangkit perlahan dan menatap Agni yang tengah menutup matanya dengan satu tangan dengan dahi mengerut.

            “Huhhh. Lo cowok beruntung!” seru Agni dan kali ini ia bangkit berdiri membuatnya dan Cakka berdiri berhadapan.

            Agni tersenyum manis, dan lekat-lekat menatap wajah Cakka. “Gue pengen banget berada di posisi lo,” ucap Agni lagi, kali ini ekspresi wajahnya terlihat begitu serius.

            “Hahaha. Lo lucu banget sih, katanya benci sama gue. Terus kenapa pengen di posisi gue?” Cakka tertawa aneh sambil menguncang pelan pundak Agni.

            “Karena lo punya segalanya?” jawab Agni. cakka menghentikan aksinya dan kini menatap kedua mata Agni serius. “Lo punya orang tua yang begitu peduli sama lo, punya teman-teman yang sayang sama lo, dan pacar yang begitu mencintai lo,”terang Agni. kedua matanya tampak berkaca.

            “Lo punya orang-orang yang peduli dan sayang sama lo, gak kayak gue,” Agni tertawa hambar. Perlahan genggaman Cakka di pundak Agni terlepas.

            Hening. Perlahan Agni mendekat ke arah Cakka, menghilangkan jarak di antara keduanya. Cakka mengangkat wajahnya yang semula  menatap lantai dan kini menatap tepat manik mata Cakka.

            “Dan gak ada seorang pun yang mau perduli sama gue,” ucap Agni lirih. “Cakka,” Cakka merasakan sesuatu yang beda saat mendengar Agni untuk pertama kali memanggil namanya dengan lembut. Gadis manis itu perlahan meraih jemari Cakka dan menggenggamnya erat.

            “Lo maukan, untuk malam ini aja, temenin gue?” Agni menatap wajah Cakka penuh harap. Cakka tampak diam sejenak, kemudian ia mengangguk kecil. “Gue janji. Apa pun yang terjadi malam ini di antara kita, gue gak bakal kasih tau siapa pun. Gue gak akan hancuri kebahagian lo. Lo tenang aja. Gue janji,” ucap Agni tulus.

            Cakka tertegun. Perlahan ia menggerakkan tangan kanannya dan mengelus lembut pipi kanan Agni. pelan-pelan ia mendekatkan wajahnya pada Agni, membuat napas keduanya saling beradu.

            “Boleh?” suara Cakka terdengar berbisik. Agni mengatupkan kedua matanya rapat dan mengangguk kecil. Bersamaan dengan itu Agni merasakan sesuatu yang hangat menempel di kulit bibirnya. Lembut. Dan menghanyutkan.

            Ciuman itu terasa semakin menuntut, saat Cakka mulai bergerak dengan kasar, membuat Agni meringis kecil beberapa kali ketika ia merasakan gigitan kecil di bibir bawahnya.

            “Auuuh!” pekik Agni tertahan, saat tiba-tiba saja Cakka menjatuhkan tubuh mereka ke atas kasur. Agni menahan dada Cakka yang berada di atasnya dan kembali menatap wajah itu lekat-lekat.

            “Kalau gue duluan ketemu lo, pasti gue bakal jatuh cinta setengah mati sama lo,” ucap Cakka sambil mengelus pelan kedua pipi Agni dan detik kemudian kembali mendarat kecupan-kecupannya di wajah Agni.


            ::


“Maafin aku, Ik. Aku tau aku salah, tapi aku gak bisa biarin Agni sendirian dalam keadaan seperti ini,” samar-samar Agni mendengar suara dari luar kamarnya. perlahan Agni membuka matanya dan ia tampak mengerut saat menyadari ruangan tempat ia berbaring sekarang penuh dengan nuansa putih.

            “Agni? kamu sudah sadar?” mata Agni membuka dengan cepat, dan menatap pria paruhbaya yang saat ini berdiri di samping ranjangnya dengan pandangan tak percaya.

            “Pa –pa?” suara Agni masih terdengar lemah. Pria itu tampak ingin menangis. Di raihnya salah satu jemari Agni dan di genggamnya dengan erat.

            “Maafin Papa sayang. Maafin Papa,” gumam pria itu sambil menciumin telapak tangan Agni. Agni melirik ke arah Alvin yang saat itu berdiri di samping Papa, pemuda itu tampak tersenyum manis sambil mengelus lembut puncak kepala adik tercintanya itu.

            Detik kemudian Agni tersadar, dan dengan cepat ia melingkarkan kedua tangannya di atas perut. Mendadak airmata mengalir di pipi chubbynya, membuat sang Papa dan juga Alvin menatap Agni khawatir.

            “Agni? kamu kenapa sayang?” tanya sang Papa panik saat melihat tangis putrinya semakin mejadi.

            “Agni udah sadar?” seru sebuah suara dari ambang pintu, di susul langkah-langkah kaki yang mendekat ke sisi tempat tidur Agni.

            Agni semakin terisak. Cakka dan kedua orang tuanya yang kini sudah berdiri di samping Agni menatap Agni cemas .

            “Kamu kenapa sayang?” suara keibuan itu terdengar lembut di telingat Agni.

            “Anak aku. Dia baik-baik ajakan?” tanya Agni pelan. Tangisnya mulai mereda karena masih ia rasakan kehidupan kecil di dalam perutnya yang masih terasa buncit di balik daster yang ia kenakan.

            Semua menghela napas lega bersamaan sambil tertawa pelan dan menggeleng bersamaan.

            “Gak papa. Dia baik-baik aja. Untung benturannya gak terlalu keras, dan pendarahannya juga gak begitu hebat,” terang Alvin. Agni tampak mengatupkan kedua matanya rapat. Ia tersenyum sambil memeluk erat perutnya.

            “Syukurlah,” gumam Agni.

            Agni kembali membuka matanya saat merasakan sebuah sentuhan dan menggenggam erat jemarinya. Seketika kedua mata bening Agni tampak membulat lebar.

            “Ca –kka?” pekik Agni tertahan. Cakka tersenyum manis sambil berjongkok dan mengecup lembut dahi Agni. Agi terkesiap kaget.

            “Seharusnya lo jujur sama gue, Ag. Seharusnya lo bilang dari awal kalau lo ngadung anak gue,” ucap Cakka dan kini menatap lekat manik mata Agni. Agni tampak menelan ludahnya dengan sukar dan memandang sekelilingnya takut-takut.

            “Pa… Kak Al,” gumam Agni. Cakka sedikit memundurkan tubuhnya, memberikan ruang untuk kedua pria itu berdiri di samping Agni.

            “Maafin Agni, Pa, Agni udah buat Papa malu. Agni bukan anak yang baik buat Papa,” ucap Agni mulai terisak. Sang Papa kembali menggenggam kembali jemari Agni dan mengelus puncak kepala putrinya itu penuh sayang.

            “Papa udah maafin kamu, sayang. papa yang seharunya minta maaf. Seandanya Papa bisa bersikap dewasa, seandainya Papa bisa menerima kepergian Mama kamu dengan iklas. Semua pasti gak akan terjadi seperti ini,” ucap sang papa dan menatap mata Agni menenangkan.

            Agni diam sejenak. Ia tersenyum menatap sang Papa, meraih jemarinya dan juga mengecupnya lembut. “Agni juga udah maafin Papa,” ucap Agni tulus.

            ---

“Kamu harus rajin minum vitamin ya, sayang!” Agni tersenyum canggung, menatap wanita anggun di hadapannya sungkan. Setelah keluar dari rumah sakit seminggu yang lalu, orangtua Cakka meminta agar Agni tinggal bersama mereka sampai tiba acara pernikahan mereka bulan depan. Mamanya Cakka khawatir meninggalkan Agni di rumahnya sendirian. Yah, Papanya baru saja kembali ke Singapur untuk mengurus beberapa perusahaannya di sana, dan akan kembali bulan depan. Sementara Alvin juga sudah mulai sibuk mengurus perusahaan mereka yang ada disini.

            “Makasih tante,” ucap Agni canggung. Wanita cantik itu tampak tersenyum dan mengelus lembut rambut panjang Agni.

            “panggilnya Mama dong sayang,” ucap wanita itu lagi. Agni tertegun. Di tatapnya lekat wajah wanita anggun yang duduk di sampaingnya itu dengan perasaan tak menentu.

            Agni merasakan kehangatan menjalar di hatinya. Sudah lama sekali ia kehilangan sosok seorang ibu, dan sekarang, ada seorang wanita cantik dan penuh kelembutan menawarkan diri untuk menjadi Mamanya. Mendadak mata Agni terasa perih. Ia tertawa pelan sambil menepis setitik air yang menggantung di sudut matanya.

            “Agni itu jahat banget tante. Agni udah ngacuri hubungan Cakka sama Oik. Agni gak pantes ngedapetin kebaikan tante,” ucap Agni pelan. Lia, mama Cakka tersenyum dan menarik tubuh mungil Agni dalam dekapnya.

            “Hussst. Kamu gak boleh bicara gitu. Kamu tau sayang, Cakka dan Oik itu sebenarnya di jodohkan. Cakka itu gak pernah menyayangi Oik lebih dari sekedar teman. Dia terima perjodohan ini karena dia gak mau buat keluarnya malu,” terang Lia. Perlahan Agni mengangkat wajahnya dan menatap wajah Lia dengan mata berkaca.

            “Kamu gak usah khawatir soal Oik sayang. kami sudah bicara, dan dia terima soal keputusan ini. dan… Mama sama papa juga udah gak sabar nunggu si dedeknya lahir,” jelas Lia sambil mengelus lembut perut Agni yang kini semakin buncit.

            Agni tersenyum lega. “Makasih…. Ma,” gumam Agni dan berhambur memeluk Lia dengan erat.

            ---

“Saya terima nikah dan waninya Agni Nurisa binti Wijaya, dengan perhiasan tersebut di bayar tunai..”

            “Sah?”

            “SAAHHH!”

            ---

“Maafin gue yah?” Cakka menghentikan gerakkan tangannya yang sibuk melepas kancing kemejanya dan melirik Agni yang saat itu tengah duduk di depan meja rias sambil melepas beberapa perhiasannya dengan dahi mengerut.

            “Maaf untuk?” tanya Cakka dan kini sudah berdiri tepat di belakang Agni sambil meremas pelan pundak gadisnya itu. Agni menengadah, menatap pantulan dirinya dan Cakka dalam cermin sembari tersenyum.

            “Lo pasti kesel sama gue kan, Kka? Karena gue, lo jadi gak bebas lagi,” ucap Agni. Cakka tertawa pelan. Ia berjalan memutari kursi tempat Agni duduk dan kini berjongkok di hadapan gadisnya itu.

            “Ag, gue sayang sama lo. Terlepas dari peristiwa itu, gue benar-bener ngerasa gue itu butuh lo di samping gue,” Cakka meremas kuat jemari Agni. “Gue takut banget waktu ngelihat darah ngalir di kaki lo. Gue takut waktu itu lo kenapa-napa. Gue takut kehilangan lo, dan juga anak kita,” lanjut Cakka dan mengecup lama punggung tangan Agni.

            “Lo gak marah sama gue?” tanya Agni hati-hati. Cakka kembali mengangkat wajahnya dan kini mengelus lembut pipi Agni.

            “Gue gak akan pernah marah sama lo, Ag. Lo gak ada salah apa pun sama gue,” ucap Cakka tulus. Agni pun tampak tersenyum lega dan dengan gerakkan cepat berhambur memeluk tubuh kekar Cakka.

            “Makasih ya, Kka. Makasih banget. Karena lo, gue bisa ngerasain gimana bahagianya punya orang-orang yang peduli sama gue,” bisik Agni dalam dekapan Cakka.

            Cakka tersenyum manis. semakin ia eratkan pelukkannya dan di kecupnya hangat puncak kepala Agni.



_FIN_

Yeeee. Sankyu yg udah mau baca, like plus comen. Ceritanya emang absurd parah. Gaje lagi. Hehehe. Harap maklum yahhhh :D